Thursday, July 14, 2016

Aku sebuah Cermin
Inikah kehidupan? Kehidupan dimana semestinya aku bertindak tegas dengan hak asasi egoku, namun sedari dulu aku yang terlahir sebagai sebuah cermin.
Tuanku dan nyonyaku, Yang berdiri tegak melabuiku. Aku ikuti semua perintahnya. Tapi tak satupun ia menghargaiku. Disaat ia membutuhkanku kulakui semua kebutuhanya, disaat ia sudah puas ia pergi meninggalkanku tanpa pesan.
satu hal yang membuatku heran, padahal semua sudah kulakukan. Kulakukan dengan kejujuran hati yang paling dalam.
Disaat ia marah, ku selalu ada memperhatikanya.
Disaat ia sedih, aku pun ikut sedih.
Tetapi semua perlakuanku kau anggap aku tidak melakukan dengan kejujuran.
aku hanya robot penggerakmu, yang kau anggap aku tak mempunyai harga diri. Harga diri yang sudah kau cabuli. Cabuli dengan kekerasanmu, pengkhianatanmu, ketidak percayaanmu...
pecah,runtuh,berantakan..
Karna kau lampiaskan dengan amarahmu. Aku sekarang menjadi sebuah benda cermin yang tak utuh. Kau retakkan bagianku, sehingga engkau tidak pernah perduli terhadap posisiku..
Aku tak lagi menjadi cermin yang baik, mungkin aku memang benda mati yang tak seharusnya hidup dan memiliki sebuah perasaan.
ini yang aku alami selama ini.
Persetan dengan pengekangan perasaan, perasaanku tak utuh lagi karna kekerasan. Rasanya, aku tidak ingin menjadi benda mati atau pun hidup..


aku hanya ingin kebahagiaan seperti cermin cermin yang lainya..
mungkin aku adalah samsak amarahmu yang seenaknya kamu gunakan disaat amarah mu tiba dalam egomu.
Tapi aku tak akan pernah membenci kisah kehidupanku.
aku sangat bersyukur mempunyai tuanku dan nyonyaku.
tetapi, aku sudah tak utuh lagi.

0 comments:

Post a Comment